Dua Langkah Awal Memimpin Perubahan di Sekolah

by Rahmat S Syehani

Buku berjudul The New Meaning of Educational Change dari Michael Fulan sangat menarik untuk dijadikan referensi bagi para aktivis pendidikan. Buku yang dimulai dari mengantarkan pembaca memahami tentang arti dari perubahan-perubahan di dunia pendidikan yang kemudian dilanjutkan dengan membahas beberapa perubahan pada tingkat lokal hingga tingkat nasional. Mempelajari buku ini akan memberikan insight pada kita tentang satu realitas bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan dan  akan berdampak pada bidang apapun, termasuk pendidikan. Dan respon atas perubahan itu akan menjadi penentu tentang eksistensi  organisasi atau komunitas selanjutnya. Kutipan pembuka dalam buku tersebut pada bab 1 yang berjudul: A Brief History of Educational Change sangat menarik untuk direnungkan. everything must change at one time or another or else a static society will evolve.
Yang selanjutnya perlu kita pikirkan adalah, bagaimana kita menghadapi realitas perubahan itu? Apa yang harus kita lakukan? Pernyataan Jack Welch yang dikutip oleh video berjudul VUCA Transformation di Youtube perlu kita simak: “if the rate of change outside exceeds the rate of change inside, the end is in sight”. Dalam mengelola dan melakukan perubahan, ada baiknya kita mempelajari tahapan yang dirumuskan oleh John Kotler dan ditulis menarik dalam bentuk sebuah cerita  yang berjudul: Our Iceberg is Melting: changing and succeeding under any conditions. Dalam tulisan ini saya akan membahas dua tahapan pertama dari delapan tahapan proses (mengelola) perubahan.

Tahap Pertama: Membangkitkan Kesadaran Tentang Adanya Masalah
Menurut saya tahapan ini adalah tahapan yang sangat sulit karena kita harus membangkitkan kesadaran para kolega ataupun atasan serta bawahan tentang permasalahan yang kita rasakan. Terlebih lagi jika permasalahan yang dihadapi bersifat abstrak dan futuristic. Sehingga saya menggolongkan ada dua jenis permasalahan jika dilihat dari tingkat keabstrakannya yang ditemukan dalam keseharian kita di sekolah yaitu pertama permasalahan nyata dan dapat dilihat langsung dengan indra; kedua ialah permasalahan abstrak yang memerlukan data tambahan.

Contoh permasalahan tipe pertama ialah kita melihat beberapa fenomena banyaknya sampah jajanan di lingkungan sekolah. Untuk membangkitkan kesadaran tipe ini relative mudah dilakukan, karena orang lain pun dapat melihat fakta langsung di lapangan. Beberapa strategi yang mungkin bisa dilakukan untuk membangkitkan kesadaran tentang fenomena sampah jajanan di sekolah misalnya dengan memfoto lokasi sampah yang berserakan lalu mempresentasikannya ke kolega dan pimpinan sekolah. Sosialisasi juga bisa dilakukan dengan membuat poster tentang sampah, membuat video peristiwa pembuangan sampah, maupun memprersentasikan photo dan video di depan civitas. Hasilnya mungkin akan lebih histeris lagi jika mengkaitkan bahaya sampah yang berserakan dengan sarang nyamuk Aedes aegipty dan dihubungkan dengan fenomena civitas yang terkena DBD.
Adapun untuk membangkitkan kesadaran urgensi terkait permasalahan tipe kedua memerlukan strategi yang lebih komplek. Kalau dalam cerita di buku Our Iceberg is Melting karya Kotler tokoh utama, Fred, harus mengajak Alice ke lokasi yang berbahaya dengan menyelam ke laut. Maka dalam fenomena permasalahan abstrak yang kita temukan di sekolah, kita harus mampu merancang tahapan penyadaran dengan berbagai macam cara. Misalnya saja permasalahan minat serta kemampuan membaca siswa. Kita mungkin harus melakukan survey atau pooling tentang minat baca siswa dan mengkaitkannya dengan standar minat baca secara nasional maupun internasional. Selanjutnya, kita mungkin memerlukan data tentang kemampuan membaca siswa yang diambil darin test membaca yang telah terstandar kemudian membandingkan level membaca siswa seharusnya. Semua informasi yang telah diperoleh harus dikemas lebih menarik dan readable serta mudah dipahami. Inipun harus disertai dengan jawaban pertanyan: apa permasalahan yang akan dihadapi jika minat dan level membaca siswa rendah.

Tahap Kedua: Membangun Tim Inti
Kotler dalam bukunya  menceritakan Louis, Kepala Penguin, yang menyatakan bahwa dirinya tidak bisa kerja sendirian, dia memerlukan tim. Anggota tim yang dibentuk haruslah dapat memberikan gambaran karakter dan keterampilan yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Diantara karakter dan keterampilan dasar yang diperlukan dalam memecahkan permasalahan ialah: kepemimpinan, kredibilitas, kemampuan komunikasi, otoritas, kemampuan analisis, dan kesadaran akan pentingnya permasalahan yang dihadapi.
Dari contoh kasus tentang urgensi membangun minat dan kemampuan membaca siswa misalnya tim yang diperlukan perlu terdiri dari seorang ketua tim yang memiliki kemampuan kepemimpinan dan kredibilitas dalam memimpin, serta anggota tim lain yang memiki kemampuan komunikasi dalam bentuk verbal maupun non verbal untuk mensosialisasikan gagasan tim. Diantara anggota tim harusada yang memiliki kemampuan analisis yang baik. Pihak sekolah juga harus dapat memberikan kewenangan penuh pada tim yang dibentuk.
Sebagai tambahan, seorang ketua tim haruslah yang memiliki kemampuan melihat masalah, memahami betul why-nya mengapa melakukan hal yang akan dilaksanakan, memiliki visi ke arah mana program yang akan dijalankan dan memiliki gambaran detil (analytical thinking skill is needed) bentuk kegiatan dan program.

Untuk kasus membangkitkan minat dan kemampuan membaca, diperlukan anggota tim lain yang spesifik misalnya perlu melibatkan guru bahasa Indonesia . Tambahan anggota lain untuk tim ini ialah orang yang memiliki kemampuan membuat instrumen untuk mengukur progres peningkatan minat maupun kompetensi membaca. Kemudian tim perlu diberikan otoritas dalam melakukan upaya-upaya menjalankan program mulai dari kewenangan menggunakan anggaran, mengadakan even, hingga mengintegrasikannya ke dalam sistem pembelajaran.
Sebelum mengakhiri tulisan ini saya mengingatkan bahwa kesuksesan menginisiasi kesadaran tentang urgensi permasalahan adalah kunci dari tahapan selanjutnya. Dan tahap ini tidak mudah dilakukan, sehingga bersabarlah dalam menjalani tahap ini. Jika kita sukses membangkitkan kepedulian terhadap permasalahan yang ada maka kunci jalan telah dibuka, selanjutnya carilah teman yang akan menjadi partner dalam menapaki jalanan menuju harapan yang telah ditentukan. Pembahasan tahapan kedua hingga kedelapan insyaa Allah akan dilakukan pada tulisan-tulisan selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>