All posts by rahmat

Dua Langkah Awal Memimpin Perubahan di Sekolah

by Rahmat S Syehani

Buku berjudul The New Meaning of Educational Change dari Michael Fulan sangat menarik untuk dijadikan referensi bagi para aktivis pendidikan. Buku yang dimulai dari mengantarkan pembaca memahami tentang arti dari perubahan-perubahan di dunia pendidikan yang kemudian dilanjutkan dengan membahas beberapa perubahan pada tingkat lokal hingga tingkat nasional. Mempelajari buku ini akan memberikan insight pada kita tentang satu realitas bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan dan  akan berdampak pada bidang apapun, termasuk pendidikan. Dan respon atas perubahan itu akan menjadi penentu tentang eksistensi  organisasi atau komunitas selanjutnya. Kutipan pembuka dalam buku tersebut pada bab 1 yang berjudul: A Brief History of Educational Change sangat menarik untuk direnungkan. everything must change at one time or another or else a static society will evolve.
Yang selanjutnya perlu kita pikirkan adalah, bagaimana kita menghadapi realitas perubahan itu? Apa yang harus kita lakukan? Pernyataan Jack Welch yang dikutip oleh video berjudul VUCA Transformation di Youtube perlu kita simak: “if the rate of change outside exceeds the rate of change inside, the end is in sight”. Dalam mengelola dan melakukan perubahan, ada baiknya kita mempelajari tahapan yang dirumuskan oleh John Kotler dan ditulis menarik dalam bentuk sebuah cerita  yang berjudul: Our Iceberg is Melting: changing and succeeding under any conditions. Dalam tulisan ini saya akan membahas dua tahapan pertama dari delapan tahapan proses (mengelola) perubahan.

Tahap Pertama: Membangkitkan Kesadaran Tentang Adanya Masalah
Menurut saya tahapan ini adalah tahapan yang sangat sulit karena kita harus membangkitkan kesadaran para kolega ataupun atasan serta bawahan tentang permasalahan yang kita rasakan. Terlebih lagi jika permasalahan yang dihadapi bersifat abstrak dan futuristic. Sehingga saya menggolongkan ada dua jenis permasalahan jika dilihat dari tingkat keabstrakannya yang ditemukan dalam keseharian kita di sekolah yaitu pertama permasalahan nyata dan dapat dilihat langsung dengan indra; kedua ialah permasalahan abstrak yang memerlukan data tambahan.

Contoh permasalahan tipe pertama ialah kita melihat beberapa fenomena banyaknya sampah jajanan di lingkungan sekolah. Untuk membangkitkan kesadaran tipe ini relative mudah dilakukan, karena orang lain pun dapat melihat fakta langsung di lapangan. Beberapa strategi yang mungkin bisa dilakukan untuk membangkitkan kesadaran tentang fenomena sampah jajanan di sekolah misalnya dengan memfoto lokasi sampah yang berserakan lalu mempresentasikannya ke kolega dan pimpinan sekolah. Sosialisasi juga bisa dilakukan dengan membuat poster tentang sampah, membuat video peristiwa pembuangan sampah, maupun memprersentasikan photo dan video di depan civitas. Hasilnya mungkin akan lebih histeris lagi jika mengkaitkan bahaya sampah yang berserakan dengan sarang nyamuk Aedes aegipty dan dihubungkan dengan fenomena civitas yang terkena DBD.
Adapun untuk membangkitkan kesadaran urgensi terkait permasalahan tipe kedua memerlukan strategi yang lebih komplek. Kalau dalam cerita di buku Our Iceberg is Melting karya Kotler tokoh utama, Fred, harus mengajak Alice ke lokasi yang berbahaya dengan menyelam ke laut. Maka dalam fenomena permasalahan abstrak yang kita temukan di sekolah, kita harus mampu merancang tahapan penyadaran dengan berbagai macam cara. Misalnya saja permasalahan minat serta kemampuan membaca siswa. Kita mungkin harus melakukan survey atau pooling tentang minat baca siswa dan mengkaitkannya dengan standar minat baca secara nasional maupun internasional. Selanjutnya, kita mungkin memerlukan data tentang kemampuan membaca siswa yang diambil darin test membaca yang telah terstandar kemudian membandingkan level membaca siswa seharusnya. Semua informasi yang telah diperoleh harus dikemas lebih menarik dan readable serta mudah dipahami. Inipun harus disertai dengan jawaban pertanyan: apa permasalahan yang akan dihadapi jika minat dan level membaca siswa rendah.

Tahap Kedua: Membangun Tim Inti
Kotler dalam bukunya  menceritakan Louis, Kepala Penguin, yang menyatakan bahwa dirinya tidak bisa kerja sendirian, dia memerlukan tim. Anggota tim yang dibentuk haruslah dapat memberikan gambaran karakter dan keterampilan yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Diantara karakter dan keterampilan dasar yang diperlukan dalam memecahkan permasalahan ialah: kepemimpinan, kredibilitas, kemampuan komunikasi, otoritas, kemampuan analisis, dan kesadaran akan pentingnya permasalahan yang dihadapi.
Dari contoh kasus tentang urgensi membangun minat dan kemampuan membaca siswa misalnya tim yang diperlukan perlu terdiri dari seorang ketua tim yang memiliki kemampuan kepemimpinan dan kredibilitas dalam memimpin, serta anggota tim lain yang memiki kemampuan komunikasi dalam bentuk verbal maupun non verbal untuk mensosialisasikan gagasan tim. Diantara anggota tim harusada yang memiliki kemampuan analisis yang baik. Pihak sekolah juga harus dapat memberikan kewenangan penuh pada tim yang dibentuk.
Sebagai tambahan, seorang ketua tim haruslah yang memiliki kemampuan melihat masalah, memahami betul why-nya mengapa melakukan hal yang akan dilaksanakan, memiliki visi ke arah mana program yang akan dijalankan dan memiliki gambaran detil (analytical thinking skill is needed) bentuk kegiatan dan program.

Untuk kasus membangkitkan minat dan kemampuan membaca, diperlukan anggota tim lain yang spesifik misalnya perlu melibatkan guru bahasa Indonesia . Tambahan anggota lain untuk tim ini ialah orang yang memiliki kemampuan membuat instrumen untuk mengukur progres peningkatan minat maupun kompetensi membaca. Kemudian tim perlu diberikan otoritas dalam melakukan upaya-upaya menjalankan program mulai dari kewenangan menggunakan anggaran, mengadakan even, hingga mengintegrasikannya ke dalam sistem pembelajaran.
Sebelum mengakhiri tulisan ini saya mengingatkan bahwa kesuksesan menginisiasi kesadaran tentang urgensi permasalahan adalah kunci dari tahapan selanjutnya. Dan tahap ini tidak mudah dilakukan, sehingga bersabarlah dalam menjalani tahap ini. Jika kita sukses membangkitkan kepedulian terhadap permasalahan yang ada maka kunci jalan telah dibuka, selanjutnya carilah teman yang akan menjadi partner dalam menapaki jalanan menuju harapan yang telah ditentukan. Pembahasan tahapan kedua hingga kedelapan insyaa Allah akan dilakukan pada tulisan-tulisan selanjutnya.

Belajar dan Tumbuh

By: Rahmat S Syehani

growth-1

Source of photo: https://www.inc.com/rhett-power/3-things-you-can-do-to-boost-your-companys-growth.html

Dalam salah satu perjalanan menuju Aceh, saya berdiskusi dengan seorang manager pemasaran sebuah Bank BUMN. Teman diskusi saya banyak bercerita tentang konsep branding, marketing, hingga jatuh bangunnya sebuah perbankan. Kira-kira mirip kuliah satu sesi, gartis lagi. Dari diskusi ini kemudian menginspirasi saya untuk berpikir: apa subtansi paling penting dalam pertumbuhan sebuah organisasi? Dan jika pertanyaan itu dibuat lebih spesifik lagi, apa yang paling penting dalam pertumbuhan seorang individu yang akan membuat dia terus bertahan dan terus tumbuh? Pertanyaan tersebut kemudian saya temukan inspirasi jawabannya dari buku Leadershift: 11 Essential Changes Every Leader Must Embrace dari John Maxwell, yaitu growing inside!!! Pembahasan tentang growing inside dalam buku tersebut berada dalam bab tiga tentang shifting dari goal menuju growth.

Prestasi dan Pertumbuhan
Ada sebuah video yang menarik di youtube tentang wawancara dengan Steve Jobs, pendiri perusahaan komputer Apple. Video dengan judul: Steve Jobs – The Lost Interview  memuat banyak pelajaran yang sangat berharga, mulai dari passion, strong vission of leadership, values, kesungguhan membuat karya, hingga tata kelola sebuah perusahaan. Ada satu frame yang ingin saya diskusikan dan kita ambil inspirasinya dalam dialog tersebut, yaitu yang terletak antara menit ke 26 hingga menit ke 28:20. Saya coba ambil hikmah dari dialog tersebut, yaitu saat membahas kasus perusahaan Xerox.

Hikmah yang saya maksud adalah kita sering mengganti pertumbuhan dengan prestasi. Padahal antara goal dan growth itu sangat berbeda, seperti berbedanya antara yang lama dan yang sekejap.
Prestasi atau goal adalah sesuatu yang dengan mudah bisa dirasakan. Mengangkat dan meng-endorse orang marketing lalu kemudian membuang jauh-jauh orang R&D atau para pengembang dan designer (disebut dengan product person) adalah cara paling mudah untuk mengangkat popularitas, meningkatkan pendapatan, dan kemudian memperoleh laba. Namun, tanpa disadari hal tersebut secara perlahan membiarkan organisasi tertinggal jauh, stagnan, jalan di tempat lalu kemudian decline.
Maka, hikmah kemudian yang bisa kita ambil adalah memaksa diri untuk melakukan proses pertumbuhan dari dalam, atau meningkatkan kualitas produk, sebagai sebuah proses yang mengarah pada peningkatan innner quality. Proses peningkatan kualitas dari dalam secara terus menerus lambat laun akan berdampak ke luar dan berbuah prestasi. Peningkatan kualitas produk secara berkelanjutan akan membuatnya terus update sehingga diharapkan dapat menjaga loyalitas pelanggan.

Belajar Berkelanjutan Sebagai Syarat Pertumbuhan
Salah satu kebiasaan pelajar kita yang sangat populer saat akan ujian akhir semester adalah menggunakan jurus “SKS”, atau sistem kebut semalam. Model “SKS” ini dalam beberapa kasus (atau banyak?) memberikan hasil positive dengan diperolehnya target nilai yang telah ditetapkan. Namun, satu atau dua bulan kemudian pelajar yang menggunakan sistem “SKS” akan lupa apa yang telah dipelajari dan get nothing dari proses perkuliahannya selama satu semester, kecuali nilai yang tertera dalam KHS atau raport.
Proses “SKS” adalah salah satu cara untuk mencapai goal, bukan pertumbuhan. Apabila kita mengubah mindset dari prestasi menjadi pertumbuhan, maka yang dilakukan adalah belajar secara bertahap setiap waktu. Mencoba memahami setiap konsep yang diajarkan secara sabar dan simultan. Karena pada dasarnya kurikulum telah disusun secara constructive, ibarat memasang batu bata, dari yang paling mudah menuju yang sulit.
Dalam dunia pekerjaan, khususnya Guru, orientasi pertumbuhan akan memandu kita untuk senantiasa belajar secara terus menerus. Saat pertama kali mulai menjalani profesi sebagai Guru, kita akan dihadapi pada banyak permasalahan, mulai dari permasalahan administratif, pergaulan dengan kolega, hubungan atasan –  bawahan dengan pimpinan sekolah, hingga permasalahan dengan siswa di kelas. Semua pengalaman awal tersebut akan berujung pada dua kemungkinan: pertama hanya bagian dari cerita atau kedua akan menjadi bagian dari proses belajar.
Misalnya saja, saat pertama kali masuk ke ruang kelas, seorang Guru baru akan bertemu banyak persitiwa seperti: kaku saat membuka pembelajaran, grogi saat memulai perkenalan dengan siswa, tidak menguasai teknik penyampaian materi (delivery Technic) hingga kegagalan dalam manajemen kelas. Hal tersebut sangat mungkin terjadi karena pengalaman selama pendidikan atau kuliah akan jauh berbeda dengan realitas lapangan. Bagi Guru yang berorientasi pertumbuhan akan dengan segera mencari mentor atau Guru senior. Yang bersangkutan juga akan dengan mudah mencari sumber belajar lain seperti buku, artikel atau jurnal terkait dengan permasalahan yang dihadapi.
Permasalahan juga dihadapi oleh pimpinan sekolah yang baru. Kepala Sekolah mungkin akan mengalami banyak permasalahan di awal memegang amanah. Ada Guru yang lebih senior dari sang Kepala Sekolah yang harus dihadapi, ada Guru yang tidak berkembang keterampilan dan sikap professionalnya dalam waktu yang lama, ada Guru yang memiliki permasalahan dalam interaksi sosial, laboratorium yang tidak terawat, budaya sekolah yang tidak terbentuk, hingga tingkat kedisplinan siswa yang makin menurun. Sang pemimpin baru memiliki dua opsi: belajar dan memperbaiki, atau memperbaiki tanpa didahului dengan belajar.

Pertumbuhan Guru, Pimpinan Sekolah dan Sekolah
Dengan Guru dan pimpinan sekolah yang senantiasa belajar untuk memperbaiki diri, saling mengisi kekurangan, dan saling share best practice yang dilakukan secara konsisten  akan membantu sekolah memperbaiki inner quality of the process, akhirnya mutu sekolah akan menjadi lebih baik.
Pertumbuhan kualitas sekolah tentu bukan saja semata berdasar pada peningkatan kualitas Guru dan pimpinan sekolah. Dengan mengadopsi apa yang Steve Jobs katakan dalam wawancara saat membahas product people, sekolah juga memerlukan sebuah inovasi. Saya mungkin menambahkannya dengan istilah original innovation. Sebuah inovasi yang dihasilkan dari kolaborasi proses belajar seluruh anggota tim yang kemudian menghasilkan gagasan original untuk memberikan layanan belajar terbaik sesuai dengan karakteristik dan keunikan sekolah bersangkutan.
Untuk itu maka belajar adalah salah satu syarat penting untuk tumbuh dari dalam. Belajar berkelanjutan adalah cara yang paling effective untuk terus mengalami pertumbuhan. Hasil dari pertumbuhan dengan cara ini akan sistemik dan permanen. Yakinlah, saat kita benar-benar belajar, akan terjadi peristiwa dahsyat dalam diri kita terkait knowledge acquisition, ini akan bersifat lebih permanen dibandingkan prestasi yang tampak dari luar dan dari hasil proses yang singkat.
Mari terus belajr untuk pertumbuhan kita, generasi, dan bangsa Indonesia yang kita cintai.

Keberbedaan Sekolah: sebuah tuntutan inovasi

Oleh: Rahmat S Syehani

43659127822_43574be2f4_o

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kiriman photo dari salah seorang sahabat di sebuah kota. Kiriman photonya sangat berkesan, hal ini setidaknya disebabkan dua hal. Pertama, teman saya yang tidak biasa bergelut di dunia sekolah mengirimkan photo-photo sekolah dan menyampaikan bahwa sekolah tersebut akan dijual, yang kemungkinan disebabkan kekurangan siswa. Kedua, melalui photo yang dikirim kemudian dengan segera saya cari informasi tentang sekolah tersebut, ternyata sekolah tersebut bukan sekolah biasa karena membawa nama besar tokoh, dan konon kabarnya pernah menjadi sekolah besar.

Dalam beberapa bulan terakhir ini saya mendapatkan undangan maupun diskusi terkait fenomena decline pada sekolah-sekolah swasta. Decline itu biasanya didasarkan pada penurunan jumlah siswa secara konsisten setiap tahun. Dari hasil diskusi dan observasi yang dilakukan, banyak faktor penyebab decline nya sekolah swasta diantaranya menurunnya populasi usia sekolah (biasanya sangat terasa pada tingkat PAUD) di daerah sekitar sekolah, menurunnya “daya beli” masyarakat, bertambah dan berkemkembangnya mutu sekolah negeri, peningkatan populasi sekolah swasta lain yang sejenis, serta tidak pahamnya masyarakat tentang konsep sekolah yang ditawarkan.

Terlepas dari sebab mana yang berdampak paling signifikan pada peristiwa decline, saya justru melihat ada persoalan yang paling mendasar pada sekolah-sekolah swasta kita, yaitu: keberbedaan (distinctive) sekolah swasta tersebut dari sekolah lain, khususnya sekolah negeri. Dimana, sekolah-sekolah negeri di kota-kota besar saat ini sedang meningkat kualitasnya.

Apa bedanya sekolah anda?

Saya memiliki pengalaman menarik sekitar tahun 2016 saat sedang mengadakan open house di salah satu cabang baru sekolah kami. Saat itu sekolah yang kami akan dirikan masih lahan kosong. Salah satu calon orang tua siswa mengajukan pertanyaan, yang subtansi pertanyaannya kira-kira seperti ini: pak Rahmat, kami lihat sekolah ini belum siap, gedung belum dibangun tapi sudah berani menerima siswa dengan uang masuk dan SPP yang tidak sederhana. Tolong jelaskan kepada saya, mengapa saya harus memilih sekolah ini? Sebuah pertanyaan yang cerdas dan bernas. Saya jelaskan cukup panjang dan sebagian detil. Singkat cerita kandidat orang tua siswa tersebut kemudian menjadi orang tua siswa kami.

Tentu pembaca bertanya, jawaban apa yang saya berikan pada sang penanya? Apa yang saya sampaikan kepada calon orang tua siswa tersebut cukup panjang, tetapi rangkuman sederhananya ialah tentang perbedaan sekolah ini dengan sekolah lain, termasuk sekolah kami yang sebelumnya. Dan saya pikir itulah sebagian daya tarik dan kekuatan sekolah ini. Meskipun demikian saya tetap memberikan catatan tebal pada teman-teman pengelola disana: jangan lelah utk evaluasi diri dan terus mencari formula terbaik. Karena selalu ada cara yang lebih baik untuk menjadi lebih baik.

Beranjak dari inspirasi ini, pertanyaan yang sama saya ajukan pada para pembaca: jelaskan apa yang mengharuskan saya (calon ortu siswa) harus memilih sekolah anda? Bukan sekolah negeri terdekat Dan bukan sekolah swasta lain? Apa yang membedakan sekolah ini dengan sekolah lain?

Dalam beberapa kesempatan berdiskusi dengan pimpinan sekolah swasta, saya pernah mengajukan pertanyaan yang sama. Karena biasanya saya bertanya pada pimpinan sekolah swasta Islam, dan jawaban teman-teman umumnya terkemas dalam jawaban sebagai berikut: kami punya program tahsin dan tahfidz, ekskul Al Quran, BPI, mutabaah yaumiah, dan buku penghubung dengan orang tua siswa, ditambah beberapa ekskul seperti panahan dan renang.

Lalu saya ajukan pertanyaan lanjutan: apakah sekolah X, sebuah sekolah swasta Islam yang dekat dengan sini, memiiliki program yang sama? Saling menataplah mereka. Bahkan, di beberapa kota, termasuk di Depok dan Kuningan, ada sekolah-sekolah Negeri yang memiliki program-program seperti disebutkan di atas.

Merancang Keberbedaan (distinctive)

Apa yang kemudian ingin saya ajak adalah, mari memperhatikan gambar berikut ini:

golden_egg_among_ordinary_white_eggs_42-187880011

Resource of photo: http://flapperfood.blogspot.com/2014/04/flapperfood-for-thought-speaking-of-eggs.html

Telur mana yang paling mudah teman-teman ambil?  karena biasanya orang dengan muda memilih  yang eye catching, untuk kasus di atas maka yang paling mudah diambil adalah yang (seperti) emas.

Sekarang saya mengajak teman-teman pembaca untuk membedah komponen kunci sekolah kita dan bandingkan dengan sekolah lain. Berikut ini adalah tool sederhana untuk melakukan bedah komponen. Teman-teman bisa menambahkan komponen-komponen lain dan mengisinya secara kualitatif dan kuantitatif.

Komponen Kunci Keberadaan Program Keberbedaan Kualitatif & Kuantitatif
Sekolah Anda Sekolah X Sekolah Y
Kurikulum 13 Ada Ada Ada Hampir tidak ada perbedaan, menggunakan kurikulum 2013 dari pemerintah
Buku Penunjang
Ke-Khasan Kurikulum JSIT
Pramuka
Tahsin
Tahfidz
Tingkat Pendidikan Guru
Kualitas Kinerja Guru

Teman-teman tentu bisa memasuki prestasi sekolah sebagai sebuah komponen keunggulan. Tetapi saya menyarankan jangan jadikan prestasi sebagai andalan keberbedaan. Mengapa? karena prestasi adalah hasil dari sebuah proses yang disebabkan oleh banyak variabel. Bahkan terkadang, kita tidak melakukan proses, tetapi kita mendapatkan hasil prestasinya.  Contohnya saja, salah satu siswa kami pernah meraih prestasi di golf, padahal di sekolah kami tidak ada ekskul golf apalagi kurikulum golf. Terima kasih banyak pada orang tua siswa yang mengembangkan potensi ananda.

Kembali pada tabel di atas, apabila teman-teman sudah membuat dan mengisi tabel tersebut, maka langkah selanjutnya adalah merancang inovasi sekolah. Proses perancangan inovasi dapat dilakukan dengan beragam cara, mulai dari studi banding, telaah referensi, focus group discussion, hingga mengajak pihak luar berdiskusi dengan manajemen sekolah. Dengan proses yang telaten dan berfokus pada hasil, in syaa Allah, teman-teman dapat menemukan ragam inovasi sekolah. Selanjutnya tinggal memilih mana yang terlebih dahulu akan dieksekusi dan bagaimana tahapannya.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengingatkan teman-teman dalam dua hal: pertama, apabila telah menemukan inovasi, cepat atau lambat organisasi lain akan mengikuti inovasi kita. Kalau ini terjadi, jangan risau tetapi ikhlaskanlah, semoga kita mendapatkan kebaikan dari orang lain yang meniru kebaikan kita. Untuk itu maka teruslah berinovasi dan memperbaiki diri. Kedua, setiap inovasi memerlukan implementasi, tahap ini seringkali gagal karena tidak melibatkan seluruh stakeholders sekolah. Untuk itu, rancanglah secara detil setiap tahapan implementasi inovasi dan tentukan serta sosialisasikan dengan pihak-pihak yang terlibat lalu bersabar dalam pencapaian hasilnya.

Meng-instal Grit untuk Memimpin Perubahan

training miti

By: Rahmat S Syehani

Perubahan dalam berbagai segi kehidupan adalah keniscayaan, tidak terkecuali dunia pendidikan. Dua puluh tahun lalu, dunia belum mengenal smart-phone, tablet, LCD proyektor, apalagi blended learning. Dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat maka dunia pendidikan dituntut mampu merancang strategi yang sesuai dengan karakteristik peserta didik yang berasal dari generasi milenia ini. Generasi minelia adalah mereka yang lahir di era teknologi informasi. Mereka juga bisa disebut sebagai digital native. Generasi ini telah mengenal dan mengoperasikan gadget sebelum mengenal huruf. Generasi ini pula yang lebih dahulu mahir bermain games sebelum mereka lancar membaca dan berhitung. Sebuah generasi unik yang tidak terbayangkan ada pada masa duapuluh tahun lalu.

Perkembangan dunia pengetahuan dan teknologi informasi saat ini sudah memasuki ranah-ranah privasi dan terlibat (disadari atau tidak) dalam mendidik anak-anak masa depan. Kondisi ini menuntut institusi pengelola pendidikan untuk mampu menyesuaikan diri dan merancang program yang berkesesuaian dengan kebutuhan masa depan siswa. Pendekatan yang berkebalikan, misalnya membawa anak-anak ke dalam situasi duapuluh tahun lalu, hanya akan membuat anak tercerabut dari “identitas jamannya”. Untuk itulah maka perancangan ulang – termasuk mendefinisikan ulang system pendidikan – perlu secara serius dilakukan, baik dari tataran konsep hingga tataran implementasi. Hal ini mengarahkan organisasi pendidikan untuk “berbenah” dan “berubah”.

Tetapi, pengalaman menunjukan bahwa melakukan perubahan tidaklah mudah, apalagi memimpin perubahan (leading change). Banyak factor eksternal maupun internal  yang  menjadi penyebab tidak berjalannya perubahan. Faktor eksternal misalnya tidak adanya dukungan kebijakan dari pemerintah, perubahan ekosistem pendidikan, maupun intervensi dari stakeholders yang lain. Adapun factor internal yang menjadi sebab tidak berjalannya perubahan misalnya ketiadaan sumber daya, kelemahan dalam menyampaikan gagasan, dan ketidakmampuan dalam mengeksekusi agenda.

Jika perubahan yang diharapkan adalah indicator capaian kesuksesan, maka menarik sekali jika kita melihat konsep grit yang dipopulerkan oleh Angela Duckworth. Beliau mengingatkan bahwa grit adalah kunci penting bagi siapapun untuk mencapai kesuksesan sesuai dengan cita-citanya. Dalam artian, jika terwujudnya budaya membaca diseluruh civitas sekolah sebagai indicator ketercapaian kesuksesan, maka leaders perlu memiliki grit yang tinggi agar bisa mencapai tujuan tersebut.

 

Duckworth

resource of photo: https://www.facebook.com/angeladuckworthgrit/

Angela Duckworth, seorang professor psikologi dari University of Pennsylvania, mendefinisikan grit sebagai kecenderungan untuk senantiasa tekun dan bergairah dalam mencapai tujuan jangka panjang (Duckworth; 2014). Hasil penelitian Duckworth menunjukan bahwa grit merupakan predictor yang cukup efektif untuk melihat peluang kesuksesan. Dengan kata lain ada hubungan yang kuat antara skor grit dengan kecapaian kesuksesan. Hal ini memberikan insight bahwa seorang leader harus memiliki grit score yang tinggi, for leading change, we need gritty leaders.

 

Karakteristik grit

Dalam memimpin perubahan, ada baiknya jika Leaders memperhatikan lima karakteristik  grit yang harus dimilikinya sebagaimana  ditulis oleh Margaret M. Perlis (2013). Beliau menuliskan kelima karakteristik grit yang harus ada ialah courage, conscientiousness, long-term goal and endurance, resilience, excellence vs perfection.

 

Courage

Margaret mengatakan, bahwa keberanian pada dasarnya sulit untuk diukur, tetapi secara proporsional keberanian berhubungan langsung dengan tingkat grit. Orang yang memiliki tingkat grit yang tinggi (gritty) tidak akan mudah takut dan mundur terhadap tantangan yang dihadapi dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ketakutan gagal adalah musuh nyata dari seorang pemimpin perubahan. Seorang pemimpin yang berani tidak akan takut gagal, namun sebaliknya dia akan berani menghadapi potensi tantangan, hambatan, dan ancaman yang mungkit datang saat melaksanakan misinya.

 

Conscientiousness

Menurut Margaret seorang yang gritty haruslah memiliki sifat berhati-hati dalam melaksanakan misi. Sifat ini akan menuntun pemimpin untuk bertindak cermat dan memperhitungkan resiko dengan tetap focus pada tujuan yang ditetapkan. Sebagai contoh, saat institusi pendidikan memutuskan akan menerapkan system penilaian kinerja, pemimpin mempertimbangkan banyak aspek yang terkait dengan dampak yang akan ditimbulkan. Dia harus memasukan pertimbangan tersebut sebagai aspek yang akan menentukan desain implementasi yang akan diterapkan, dengan tetap focus pada tujuan utama yaitu memperbaiki system penilaian kinerja.

 

Long-term goal and endurance

Key point dari grit adalah kesungguh-sungguhan seseorang dalam mencapai tujuan jangka panjang. Misalnya cita-cita seseorang atau perubahan budaya organisasi. Tidak ada perubahan budaya yang terjadi secara instan, yang ada adalah perubahan terjadi secara bertahap. Seorang pemimpin haruslah berfokus pada target capaian, misalnya perubahan budaya organisasi yang diharapkan. Untuk itu dia harus memiliki “napas panjang” hingga tercapai budaya organisasi yang telah ditetapkan.

 

Resilience

Merriam-Webster Dictionary mengartikan resilience sebagai “the ability of something to return to its original shape after it has been pulled, stretched, pressed, bent, etc. Artinya resilience adalah sifat ketekunan, tidak mudah menyerah dan tetap semangat dalam mencapai tujuan meskipun telah beberapa kali gagal. Seorang pemimpin yang sedang memimpin perubahan haruslah ulet, tetap optimis, percaya diri, dan kreatif dalam mencapai tujuan perubahan yang telah ditetapkan.

 

Excellence vs Perfection

Margaret mengatakan bahwa seorang yang gritty tidaklah harus perfeksionis, sebagai gantinya ia haruslah seorang yang sangat memperhatikan tentang kualitas karya yang baik. Seorang pemimpin perubahan tidaklah perlu memandang sesuatu akan tercapai hanya jika dalam kesempurnaan yang tiada cacat. Dia harus menyadari bahwa tugas utamanya adalah tuntasnya misi dengan kualitas yang telah ditetapkan di awal. Mungkin hasilnya tidak sesempurna yang dibayangkan, tetapi terimalah sejauh hasil tersebut bisa menggambarkan kualitas yang telah dicanangkan.

 

Meng-install grit dalam diri untuk memimpin perubahan

Dari kelima karakter grit yang dituliskan oleh Margaret jika dicermati secara detail, kita akan mendapatkan gambaran bahwa grit bukanlah personality yang given. Angela Duckworth sendiri sudah menyampaikan bahwa grit bisa dilatih dan dibentuk serta ditempa untuk terus meningkat kualitasnya. Saya pikir ini adalah berita gembira untuk para leaders yang akan meng-install grit di dalam dirinya. Dough Conant (2016) dan Brendon Burchart (2016) secara terpisah merekomendasikan  beberapa langkah dalam menumbuhkan grit di dalam diri pemimpin, terutama bagi mereka yang sedang memimpin perubahan. Langkah-langkah berikut ini adalah saran dari Conant dan Burchart untuk meningkatkan grit:

 

  1. Define your purposes

Agar kita memiliki passion yang terus menggelora maka pastikan kita benar-benar memahami mengapa kita melakukannya dan apa tujuannya. Brendon mengungkapkannya dengan istilah: get clearly what do you want. Leaders harus menjelaskan apa tujuan dari perubahan yang diharapkan. Leaders juga harus jelas mengapa perubahan tersebut harus dilakukan, dan mengapa dia harus melakukannya.

 

  1. Blocking time

Salah satu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan perubahan yang ditetapkan adalah konsistensi dalam menapaki tangga-tangga pencapaian kesuksesan. Maka diperlukan waktu yang dikhususkan untuk melaksanakan tuntutan pekerjaan yang terkait dengan pencapaian tujuan. Dengan demikian maka blocking time adalah sebuah tuntutan untuk menjamin pasti leaders memiliki waktu melaksanakan misinya. Misalnya dalam konteks pembentukan budaya baca di sekolah, maka leaders harus memiliki waktu khusus secara rutin dengan tim budaya baca untuk mengecek proses dan ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan. Tanpa adanya waktu khusus, maka bukan tidak mungkin akan terjadi “kondisi terlupakan” dan kemudian disadari bahwa semuanya sudah terlambat. Ini yang kita sebut dengan otopsi.

 

  1. Prime enthusiasm

Antusias, gairah, adalah bahan bakar yang sangat dibutuhkan untuk mewujudkan mimpi. Tujuan atau mimpi yang sudah dituliskan perlu terus menerus dibaca dan diingat oleh leaders untuk memastikan api semangat tertap bergemuruh. Tanpa antusiasme, maka aktivitas yang dilakukan akan berlalu secara mekanistis, seperti robot yang tidak memiliki ruh. Dalam kondisi seperti ini maka jika ada hambatan maka sangat mudah untuk berbalik arah atau goyah. Tetapi, bagi leaders yang penuh gairah, akan dengan mudah mencari solusi dan mengumpulkan energi untuk terus melaju menggapai mimpi yang telah terpatri.

 

  1. Enlist team

Adalah sebuah realitas bahwa energi leaders tidak selamanya tinggi. Ujian yang bertubi-tubi kadangkala membuat leaders menjadi down atau tidak percaya diri. Untuk itu maka sangat disarankan leaders yang sedang memimpin perubahan membentuk tim pendukung. Sebuah tim yang menjadi tempat berkumpulnya leaders yang memiliki kesamaan “frekuensi” dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sesungguhnya kesendirian itu membuat kita lemah, maka berjamaah dan bekerjasamalah.

 

 

Memimpin Perubahan

Kekuatan leadership seorang pemimpin tidak akan menjadi jaminan untuk suksesnya pencapaian perubahan yang telah ditetapkan. Dia tetap memerlukan sebuah strategi yang tepat agar perubahan yang diharapkan bisa terwujud. Rodger Duncan (2012) menyarankan pendekatan change-friendly leadership untuk mentranformasi budaya sebuah organisasi. Beliau menuliskan bahwa seringkali perubahan yang dicanangkan hanya membuat organisasi menjadi “hiruk-pikuk”, ramai, dan menyakitkan namun pada akhirnya berujung nihil. Pendekatan change-friendly leadership yang disarankan dianggap telah terbukti mampu mentranformasi organisasi secara smooth dan tanpa memunculkan “riak” yang berarti.

Dalam memulai menerapkan kepemimpinan perubahan yang bersahabat, langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang leader adalah pelibatan. Pastikan seluruh komponen organisasi di semua level terlibat dalam perancangan dan pelaksanaan perubahan. Pelibatan yang berhasil akan membawa keterlibatan semua komponen fisik, emosional, dan kognitif seluruh pihak. Ketercapaian pelibatan komponen fisik akan ditandai dengan bergairahnya seluruh civitas yang terlibat. Keberhasilan pelibatan komponen emosional ditunjukan dengan rasa kebanggaan terlibat dalam perubahan yang dicanangkan. Sedangkan keberhasilan pelibatan komponen kognitif dapat terlihat dari munculnya indikasi immersing semua pihak dalam setiap tahapan perubahan.

Selanjutnya, seorang pemimpin perubahan harus bisa memunculkan komitmen seluruh pihak dalam misi mencapai perubahan. Dalam konteks memunculkan komitmen, Duncan mengingatkan konsep komitmen yaitu: “you are doing the right thing for the right reasons. You are not motivated by fear, you are motivated by love”. Jadi, pribadi yang komitmen akan melakukan sesuatu karena menyadari konsekuensi dari perbuatannya akan berpengaruh pada apa yang dituju. Bukan didasarkan atas ketakutan terhadap sangsi (punishment) maupun karena mengejar hadiah (reward). Komitmen semacam ini akan muncul jika orang yang terlibat betul-betul merasa engage dalam perubahan yang dicanangkan.

Point penting yang juga diingatkan  Duncan dalam memimpin perubahan ialah leaders hendaknya bisa mengimplementasikan authentic leadership. Kepemimpinan otentik akan mewujud hanya jika seorang pemimpin bisa dipercaya dan senantiasa komitmen terhadap value organisasi. Trust menurut Stephen M.R Covey, sebagaimana dikutip oleh Duncan akan berdampak kepada dua hal yaitu kecepatan dan biaya. Dalam konteks memimpin perubahan, ini berarti bahwa saat kepercayaan terhadap leaders turun maka kecepatan terhadap target capaian akan turun juga. Akhirnya biaya untuk mencapai tujuan perubahan akan meningkat.

UJIAN NASIONAL: APAKAH THERMOMETER BISA MENYEMBUHKAN?

Oleh: Rahmat S Syehani

Setiap orang tua tentu menginginkan anak-anaknya selalu sehat dan ceria. Namun, ada kalanya sang anak menderita demam yang ditandai dengan kenaikan suhu tubuh. Biasanya orang tua hanya memegang kepalanya atau badannya, dan kemudian mengatakan “badan kamu panas nak, ayo istirahat”. Bagi orang tua lain yang menyadari bahwa panas tubuh anak yang dirasakan oleh telapak tangan ibu atau ayah bukanlah indikator yang sebenarnya. Karena bisa jadi jika telapak tangan ayah atau ibu sedang dingin, maka saat memegang badan anak akan terasa lebih hangat, meskipun suhu tubuh anak sebenarnya normal. Atau bisa saja anak mengalami kenaikan suhu badan tetapi masih dibawah 37,2oC. Maka orang tua yang menyadari keterbatasan daya ukur telapak tangan dalam mendeteksi panas lebih cenderung menyediakan thermometer di rumahnya, karena menyadari bahwa “telapak tangan bukan alat pengukur suhu”.

Dari sini kemudian kita mengetahui bahwa standar untuk pengukuran suhu adalah thermometer, bukan telapak tangan. Meskipun kita tahu bahwa telapak tangan bisa merasakan panas atau dinginnya tubuh, tetapi telapak tangan memiliki beragam keterbatasan sehingga tidak bisa menentukan secara akurat suhu tubuh yang diukur. Jika seorang ayah atau ibu telah mengetahui bahwa suhu tubuh anaknya diatas 37.5 oC maka mereka perlu melakukan tindakan lanjutan, misalnya membawa anak untuk diperiksa ke dokter atau memberikan obat penurun panas. Karena orang tua menyadari, thermometer bukanlah obat. Thermometer hanyalah alat yang digunakan untuk membantu orang tua membaca suhu tubuh anaknya. Jika sudah terbaca, maka perlu ada tindakan lanjut sesuai dengan angka suhu yang terbaca.

 

Nilai test, termasuk UN adalah indicator capaian terhadap objective

Dalam dunia pendidikan, kita mengenal istilah evaluasi pembelajaran atau penilaian proses pendidikan maupun penilaian hasil belajar. Konsep penilaian hasil belajar muncul dari keinginan pendidik untuk melihat sejauh mana materi yang telah diajarkan telah dipahami oleh peserta didik. Dari sini kemudian berkembang istilah evaluasi formative atau sumative. Dimana evaluasi formative ditujukan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang sedang berjalan sehingga jika ditemukan kesenjangan antara apa yang diajarkan oleh Guru dengan yang dipahami siswa maka bisa diperbaiki dengan segera. Perbaikan bisa dilakukan beragam cara, tergantung pada apa yang menjadi permasalahan. Untuk itu evaluasi formative semestinya bukan saja berisi tentang soal-soal apa yang sudah diajarkan tapi juga bisa menanyakan pada siswa tentang strategi belajar yang diterapkan, apakah membantu mereka belajar atau tidak. Nah, pertanyaan jenis ini tentu hanya relevan untuk siswa yang sudah relative mature. Misalnya saja ditanyakan pada siswa SMP atau SMA.

Adapun evaluasi summative dirancang guru dengan maksud untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa terhadap keseluruhan materi yang telah diajarkan. Banyak pertanyaan kritis tentang evalusi summative ini, misanya apakah ini digunakan untuk “menghakimi” siswa atau untuk “memperbaiki” guru? Bagi siswa yang tidak mencapai nilai minimal yang telah ditentukan, apakah harus mengulang atau melanjutkan saja? Apakah test summative dilakukan diakhir semester atau setiap selesai sub bab? Apakah di akhir tahun ajaran perlu dilakukan test summative terhadap keseluruhan materi ajar untuk satu tahun? Dan mungkin lebih banyak lagi. Tetapi, bagi sebagian besar guru yang bergelut di sekolah setiap hari menyadari bahwa hasil test summative merupakan indicator tentang capaian hasil belajar siswa terhadap tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan oleh guru. Saya pertegas bahwa hasil test summative setiap sekolah tentu berbeda, tergantung pada tujuan pembelajaran masing-masing. Bahkan, dengan tujuan pembelajaran yang sama jika kualitas soal yang berbeda (missal tingkat kesulitan soal, daya beda, validitas dan reliabilitas) maka besar kemungkinan akan berbeda pula hasil yang diperoleh.

Keberagaman instrument evaluasi dari setiap sekolah kemudian akan menentukan keberagaman arti ketercapaian hasil belajar. Katakanlah misalnya seorang siswa yang memperoleh nilai 8 pada pembelajaran Matematika kelas 9 di sekolah A, tentu akan memiliki arti yang berbeda dengan nilai 8 di sekolah lain meskipun materi pelajaran dan kelasnya sama. Atas pertimbangan demikian, maka perkumpulan kepala sekolah di tingkat  kabupaten atau kota  mengadakan ulangan umum bersama (UUB) atau sejenisnya.

Kegiatan seperti ini sebenarnya dimaksudkan untuk menstandarisasi makna “hasil belajar” antara satu sekolah dengan sekolah lain. Yang juga kemudian bisa dikembangkan menjadi standarisasi makna “prestasi” antara sekelompok siswa dari sekolah yang satu terhadap sekolah yang lain. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, untuk keperluan siapa test standarisasi ini dimaksudkan? Untuk keperluan siswa, guru, sekolah, atau untuk dinas pendidikan kabupaten/kota? Pertanyaan bisa dilanjutkan lebih dalam jika evaluasi ini ditujukan untuk “menghakimi” atau membuat peringkat baik siswa, guru, atau sekolah. Misalnya saja Apakah pantas membandingkan antara siswa yang mengikuti proses pembelejaran di sebuah sekolah yang tidak memiliki laboratorium dan perpustakaan dengan siswa yang berasal dari sekolah yang memiliki segala sarana dan prasarana yang memadai?

Keberadaan ujian nasional juga memiliki latar belakang yang tidak jauh berbeda. Karena pemerintah telah menetapkan kurikulum terstandar yang harus diimplementasikan pada setiap penyelenggaraan proses pendidikan (misalnya kurikulum 2013) maka pemerintah perlu melihat sejauh mana ketercapaiannya. Katakanlah misalnya, untuk seluruh siswa SMP pada pembelajaran matematika, dalam kurikulum pemerintah telah menetapkan sepuluh standar kompetensi yang perlu dikuasai siswa. Setelah siswa mengikuti pembelajaran selama tiga tahun maka pemerintah perlu mengecek capaian standar kompetensi yang dipahami oleh setiap siswa; berapa persen siswa memahami standar kompetensi matematika yang telah ditetapkan? Untuk menjawab hal tersebut maka pemerintah perlu membuat instrument evaluasi yang tervalidasi dan terstandar di seluruh Indonesia.

Jika menyerahkan pada masing-masing sekolah untuk mengevaluasi capaian hasil belajar selama tiga tahun kemungkinan akan terbuka peluang ketimpangan yang sangat besar antara “makna nilai 10” di satu sekolah dengan nilai yang sama pada sekolah yang lain. Untuk itulah maka UN dianggap sebagai indicator yang fair dan tepat untuk mengevaluasi capaian hasil belajar secara nasional. Pertanyaannya, apakah fair juga membandingkan mutu capaian hasil belajar siswa dari sabang sampai merauke padahal fasilitas pendukungnya berbeda?

 

UN atau UUB adalah indicator, bukan obat

Di dalam kalimat pembuka saya telah menceritakan posisi thermometer dalam mendeteksi panas tubuh seorang anak. Kita sama-sama mengetahui bahwa thermometer bukanlah obat. Bahkan thermometer adalah instrument yang sangat sederhana dan tidak bisa mendeteksi sakit yang dialami oleh seorang anak saat suhu badannya menunjukan angka di atas 38oC. Jika ingin tahu apa jenis penyakitnya dan bagaimana pengobatannya, maka diperlukan pemeriksaan lanjutan ke dokter. Pada saat dilakukan pemeriksaan ulang, biasanya dokter menggunakan instrument lain yang lebih relevan, misalnya stetoskop.

Demikian juga dengan hasil UN maupun UUB dalam dunia pendidikan. Hasil UN atau UUB bukanlah obat yang kemudian dianggap bisa meningkatkan mutu pendidikan. Sama seperti thermometer, hasil UN hanyalah indicator awal akan potret pendidikan yang ada. Sebagai sebuah potret, sangat tergantung pada saat dilakukannya pemotretan, dan juga sangat tergantung pada sisi yang dipotret dan sudut pemotretan. Untuk mengidentifikasi kondisi mutu pendidikan lanjutan maka diperlukan instrument lain misalnya instrument pemetaan mutu guru, kondisi sekolah dan sarana dan prasarana. Pertanyaan lanjutan, dan juga mengulang dari pertanyaan sebelumnya, apakah “nilai” yang diperoleh dari instrument-instrumen tersebut sebagai indicator “untuk menghukum” atau untuk memperbaiki? Lalu dimana tugas pemerintah? Menghakimi sekolah, guru, dan siswa atau memperbaikinya? Apakah memperbaiki mutu bisa dilakukan dengan menggonta-ganti instrument?

 

UN dan Kelulusan

Untuk tahun ini, Alhamdulillah UN bukan lagi menjadi penentu kelulusan. Melainkan untuk pemetaan capaian prestasi belajar siswa. Pemerintah juga menyebutkan bahwa penentu kelulusan selanjutnya adalah sekolah. Apakah ini sebuah kemajuan atau kemunduran? Saya tidak dapat menjustifikasinya, mengingat sejarah pendidikan Indonesia telah mengalami beragam kebijakan dalam menentukan kelulusan siswa.

Misalnya saja, sebelum tahun 1970 pemerintah menyelenggarakan Ujian Negara dan hasilnya menentukan kelulusan siswa. Merasa tidak tepat, maka sekitar tahun 1970 sampai 1982 pemerintah menggantinya menjadi Ujian Sekolah, dimana penentu kelulusan ditentukan oleh sekolah. Kita bisa melihat bahwa bandul kiri dimana Ujian Negara menentukan kelulusan kemudian bergerak ke bandul kanan dimana ujian sekolah yang menentukan kelulusan, ternyata kedua-duanya tidak mampu mendongkrak mutu pendidikan nasional. Jika pada masa ujian Negara banyak yang dirugikan, maka pada masa ujian sekolah ternyata sekolah tidak mampu menunaikan amanahya dengan benar sehingga mutu lulusan kurang terjaga.

Pergeseran bandul kemudian bergerak ketengah, pada tahun 1983 hingga 2003 diberlakukan konsep EBTANAS, dimana kelulusan merupakan gabungan antara nilai hasil ujian yang diselenggarakan oleh pemerintah dengan yang diselenggarakan sekolah. Model inipun kemudian dianggap belum pas hingga melahirkan konsep Ujian Nasional pada beberapa tahun terakhir dimana siswa perlu mencapai nilai tertentu pada  mata pelajaran UN sebagai syarat kelulusan. Ternyata model terakhir inipun masih dianggap menciptakan ketidakadilan, membuka peluang curang hingga mengajarkan anak untuk tidak jujur. Hingga akhirnya sama-sama kita dengar bahwa mulai UN tahun 2015 tidak lagi menentukan kelulusan siswa. Apakah ini akan menyelesaikan permasalahan pendidikan Indonesia? Apakah ini akan membantu meningkatkan mutu pendidikan Indonesia?

Menurut Menteri saat itu, Dr Anies Baswedan, UN  kali ini diharapkan dapat digunakan untuk pemetaan mutu program dan satuan pendidikan, dasar seleksi masuk pada pendidikan berikutnya dan pembinaan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Saya sedikit ragu dengan harapan tersebut. Karena hasil UN hanyalah indicator capaian penguasaan materi ajar, ia bukan indicator dari gambaran proses pembelajaran yang sebenarnya terjadi.

Selain itu, meskipun di dalam hasil UN nanti ada deskripsi tentang capaian prestasi siswa tetapi ia tidak bisa memberikan gambaran utuh dari hasil proses pendidikan yang sebenarnya. Terlalu sederhana jika UN dijadikan satu-satunya indicator tentang capaian hasil belajar yang siswa, sama dengan sederhananya jika hasil thermometer dijadikan mutu kesehatan seseorang, karena ada sakit tertentu yang tidak diindikasikan oleh meningkatnya suhu tubuh, contoh yang paling sederhana adalah sakit mag. Dalam pendidikan misalnya kematangan emosi, kemampuan berpikir analitis, kesiapan menjadi warga Negara yang baik tidak bisa digambarkan oleh hasil test yang diselenggarakan sekitar 90 menit per matapelajaran. Juga kita perlu menyadari bahwa satu instrument tidak bisa digunakan untuk beragam tujuan maupun beragam analisa.

 

Reposisioning tujuan UN

Dengan paparan yang telah saya sampaikan di atas, maka menurut pendapat saya, posisi UN hanyalah sebagai salah satu instrument untuk pemetaan salah satu komponen standar nasional pendidikan. Dengan menempatkan di sisi ini, artinya pemerintah akan menggabungkan hasil UN dengan hasil dari instrument standarisasi nasional pendidikan lainnya yang kemudian dijadikan sebagai data awal untuk merancang perbaikan mutu pendidikan.

Misalnya saja, data UN yang nanti diperoleh bisa dikorelasikan dengan data kompetensi dan kualifikasi guru, kemudian dibuat analisa dan program untuk pengembangan mutu Guru. Hasil peta kompetensi dan kualifikasi guru yang dilakukan pemerintah pun perlu diintegrasikan dengan data real di lapangan, misalnya hasil supervise dari kepala sekolah dan pengawas setempat. Dari sini pun akan ada tantangan lagi yaitu bagaimana seluruh kepala sekolah memiliki kemampuan supervisi dan pendampingan guru yang terstandar. Maka akan lahir program pengembangan profesi kepala sekolah, yang didalamnya berisi peningkatan pengetahuan dan keterampilan kepala sekolah untuk peningkatan mutu pembelajaran dan mutu sekolah.

Jadi, pengambalian UN yang tidak lagi menjadi penentu kelulusan belum merupakan jawaban tuntas atas permasalahan UN, hanya mengulang sejarah didekade 1970-an hingga awal dekade 2000-an.