Tag Archives: manajemen sekolah

Keberbedaan Sekolah: sebuah tuntutan inovasi

Oleh: Rahmat S Syehani

43659127822_43574be2f4_o

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kiriman photo dari salah seorang sahabat di sebuah kota. Kiriman photonya sangat berkesan, hal ini setidaknya disebabkan dua hal. Pertama, teman saya yang tidak biasa bergelut di dunia sekolah mengirimkan photo-photo sekolah dan menyampaikan bahwa sekolah tersebut akan dijual, yang kemungkinan disebabkan kekurangan siswa. Kedua, melalui photo yang dikirim kemudian dengan segera saya cari informasi tentang sekolah tersebut, ternyata sekolah tersebut bukan sekolah biasa karena membawa nama besar tokoh, dan konon kabarnya pernah menjadi sekolah besar.

Dalam beberapa bulan terakhir ini saya mendapatkan undangan maupun diskusi terkait fenomena decline pada sekolah-sekolah swasta. Decline itu biasanya didasarkan pada penurunan jumlah siswa secara konsisten setiap tahun. Dari hasil diskusi dan observasi yang dilakukan, banyak faktor penyebab decline nya sekolah swasta diantaranya menurunnya populasi usia sekolah (biasanya sangat terasa pada tingkat PAUD) di daerah sekitar sekolah, menurunnya “daya beli” masyarakat, bertambah dan berkemkembangnya mutu sekolah negeri, peningkatan populasi sekolah swasta lain yang sejenis, serta tidak pahamnya masyarakat tentang konsep sekolah yang ditawarkan.

Terlepas dari sebab mana yang berdampak paling signifikan pada peristiwa decline, saya justru melihat ada persoalan yang paling mendasar pada sekolah-sekolah swasta kita, yaitu: keberbedaan (distinctive) sekolah swasta tersebut dari sekolah lain, khususnya sekolah negeri. Dimana, sekolah-sekolah negeri di kota-kota besar saat ini sedang meningkat kualitasnya.

Apa bedanya sekolah anda?

Saya memiliki pengalaman menarik sekitar tahun 2016 saat sedang mengadakan open house di salah satu cabang baru sekolah kami. Saat itu sekolah yang kami akan dirikan masih lahan kosong. Salah satu calon orang tua siswa mengajukan pertanyaan, yang subtansi pertanyaannya kira-kira seperti ini: pak Rahmat, kami lihat sekolah ini belum siap, gedung belum dibangun tapi sudah berani menerima siswa dengan uang masuk dan SPP yang tidak sederhana. Tolong jelaskan kepada saya, mengapa saya harus memilih sekolah ini? Sebuah pertanyaan yang cerdas dan bernas. Saya jelaskan cukup panjang dan sebagian detil. Singkat cerita kandidat orang tua siswa tersebut kemudian menjadi orang tua siswa kami.

Tentu pembaca bertanya, jawaban apa yang saya berikan pada sang penanya? Apa yang saya sampaikan kepada calon orang tua siswa tersebut cukup panjang, tetapi rangkuman sederhananya ialah tentang perbedaan sekolah ini dengan sekolah lain, termasuk sekolah kami yang sebelumnya. Dan saya pikir itulah sebagian daya tarik dan kekuatan sekolah ini. Meskipun demikian saya tetap memberikan catatan tebal pada teman-teman pengelola disana: jangan lelah utk evaluasi diri dan terus mencari formula terbaik. Karena selalu ada cara yang lebih baik untuk menjadi lebih baik.

Beranjak dari inspirasi ini, pertanyaan yang sama saya ajukan pada para pembaca: jelaskan apa yang mengharuskan saya (calon ortu siswa) harus memilih sekolah anda? Bukan sekolah negeri terdekat Dan bukan sekolah swasta lain? Apa yang membedakan sekolah ini dengan sekolah lain?

Dalam beberapa kesempatan berdiskusi dengan pimpinan sekolah swasta, saya pernah mengajukan pertanyaan yang sama. Karena biasanya saya bertanya pada pimpinan sekolah swasta Islam, dan jawaban teman-teman umumnya terkemas dalam jawaban sebagai berikut: kami punya program tahsin dan tahfidz, ekskul Al Quran, BPI, mutabaah yaumiah, dan buku penghubung dengan orang tua siswa, ditambah beberapa ekskul seperti panahan dan renang.

Lalu saya ajukan pertanyaan lanjutan: apakah sekolah X, sebuah sekolah swasta Islam yang dekat dengan sini, memiiliki program yang sama? Saling menataplah mereka. Bahkan, di beberapa kota, termasuk di Depok dan Kuningan, ada sekolah-sekolah Negeri yang memiliki program-program seperti disebutkan di atas.

Merancang Keberbedaan (distinctive)

Apa yang kemudian ingin saya ajak adalah, mari memperhatikan gambar berikut ini:

golden_egg_among_ordinary_white_eggs_42-187880011

Resource of photo: http://flapperfood.blogspot.com/2014/04/flapperfood-for-thought-speaking-of-eggs.html

Telur mana yang paling mudah teman-teman ambil?  karena biasanya orang dengan muda memilih  yang eye catching, untuk kasus di atas maka yang paling mudah diambil adalah yang (seperti) emas.

Sekarang saya mengajak teman-teman pembaca untuk membedah komponen kunci sekolah kita dan bandingkan dengan sekolah lain. Berikut ini adalah tool sederhana untuk melakukan bedah komponen. Teman-teman bisa menambahkan komponen-komponen lain dan mengisinya secara kualitatif dan kuantitatif.

Komponen Kunci Keberadaan Program Keberbedaan Kualitatif & Kuantitatif
Sekolah Anda Sekolah X Sekolah Y
Kurikulum 13 Ada Ada Ada Hampir tidak ada perbedaan, menggunakan kurikulum 2013 dari pemerintah
Buku Penunjang
Ke-Khasan Kurikulum JSIT
Pramuka
Tahsin
Tahfidz
Tingkat Pendidikan Guru
Kualitas Kinerja Guru

Teman-teman tentu bisa memasuki prestasi sekolah sebagai sebuah komponen keunggulan. Tetapi saya menyarankan jangan jadikan prestasi sebagai andalan keberbedaan. Mengapa? karena prestasi adalah hasil dari sebuah proses yang disebabkan oleh banyak variabel. Bahkan terkadang, kita tidak melakukan proses, tetapi kita mendapatkan hasil prestasinya.  Contohnya saja, salah satu siswa kami pernah meraih prestasi di golf, padahal di sekolah kami tidak ada ekskul golf apalagi kurikulum golf. Terima kasih banyak pada orang tua siswa yang mengembangkan potensi ananda.

Kembali pada tabel di atas, apabila teman-teman sudah membuat dan mengisi tabel tersebut, maka langkah selanjutnya adalah merancang inovasi sekolah. Proses perancangan inovasi dapat dilakukan dengan beragam cara, mulai dari studi banding, telaah referensi, focus group discussion, hingga mengajak pihak luar berdiskusi dengan manajemen sekolah. Dengan proses yang telaten dan berfokus pada hasil, in syaa Allah, teman-teman dapat menemukan ragam inovasi sekolah. Selanjutnya tinggal memilih mana yang terlebih dahulu akan dieksekusi dan bagaimana tahapannya.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengingatkan teman-teman dalam dua hal: pertama, apabila telah menemukan inovasi, cepat atau lambat organisasi lain akan mengikuti inovasi kita. Kalau ini terjadi, jangan risau tetapi ikhlaskanlah, semoga kita mendapatkan kebaikan dari orang lain yang meniru kebaikan kita. Untuk itu maka teruslah berinovasi dan memperbaiki diri. Kedua, setiap inovasi memerlukan implementasi, tahap ini seringkali gagal karena tidak melibatkan seluruh stakeholders sekolah. Untuk itu, rancanglah secara detil setiap tahapan implementasi inovasi dan tentukan serta sosialisasikan dengan pihak-pihak yang terlibat lalu bersabar dalam pencapaian hasilnya.