Tag Archives: tata kelola sekolah

Belajar dan Tumbuh

By: Rahmat S Syehani

growth-1

Source of photo: https://www.inc.com/rhett-power/3-things-you-can-do-to-boost-your-companys-growth.html

Dalam salah satu perjalanan menuju Aceh, saya berdiskusi dengan seorang manager pemasaran sebuah Bank BUMN. Teman diskusi saya banyak bercerita tentang konsep branding, marketing, hingga jatuh bangunnya sebuah perbankan. Kira-kira mirip kuliah satu sesi, gartis lagi. Dari diskusi ini kemudian menginspirasi saya untuk berpikir: apa subtansi paling penting dalam pertumbuhan sebuah organisasi? Dan jika pertanyaan itu dibuat lebih spesifik lagi, apa yang paling penting dalam pertumbuhan seorang individu yang akan membuat dia terus bertahan dan terus tumbuh? Pertanyaan tersebut kemudian saya temukan inspirasi jawabannya dari buku Leadershift: 11 Essential Changes Every Leader Must Embrace dari John Maxwell, yaitu growing inside!!! Pembahasan tentang growing inside dalam buku tersebut berada dalam bab tiga tentang shifting dari goal menuju growth.

Prestasi dan Pertumbuhan
Ada sebuah video yang menarik di youtube tentang wawancara dengan Steve Jobs, pendiri perusahaan komputer Apple. Video dengan judul: Steve Jobs – The Lost Interview  memuat banyak pelajaran yang sangat berharga, mulai dari passion, strong vission of leadership, values, kesungguhan membuat karya, hingga tata kelola sebuah perusahaan. Ada satu frame yang ingin saya diskusikan dan kita ambil inspirasinya dalam dialog tersebut, yaitu yang terletak antara menit ke 26 hingga menit ke 28:20. Saya coba ambil hikmah dari dialog tersebut, yaitu saat membahas kasus perusahaan Xerox.

Hikmah yang saya maksud adalah kita sering mengganti pertumbuhan dengan prestasi. Padahal antara goal dan growth itu sangat berbeda, seperti berbedanya antara yang lama dan yang sekejap.
Prestasi atau goal adalah sesuatu yang dengan mudah bisa dirasakan. Mengangkat dan meng-endorse orang marketing lalu kemudian membuang jauh-jauh orang R&D atau para pengembang dan designer (disebut dengan product person) adalah cara paling mudah untuk mengangkat popularitas, meningkatkan pendapatan, dan kemudian memperoleh laba. Namun, tanpa disadari hal tersebut secara perlahan membiarkan organisasi tertinggal jauh, stagnan, jalan di tempat lalu kemudian decline.
Maka, hikmah kemudian yang bisa kita ambil adalah memaksa diri untuk melakukan proses pertumbuhan dari dalam, atau meningkatkan kualitas produk, sebagai sebuah proses yang mengarah pada peningkatan innner quality. Proses peningkatan kualitas dari dalam secara terus menerus lambat laun akan berdampak ke luar dan berbuah prestasi. Peningkatan kualitas produk secara berkelanjutan akan membuatnya terus update sehingga diharapkan dapat menjaga loyalitas pelanggan.

Belajar Berkelanjutan Sebagai Syarat Pertumbuhan
Salah satu kebiasaan pelajar kita yang sangat populer saat akan ujian akhir semester adalah menggunakan jurus “SKS”, atau sistem kebut semalam. Model “SKS” ini dalam beberapa kasus (atau banyak?) memberikan hasil positive dengan diperolehnya target nilai yang telah ditetapkan. Namun, satu atau dua bulan kemudian pelajar yang menggunakan sistem “SKS” akan lupa apa yang telah dipelajari dan get nothing dari proses perkuliahannya selama satu semester, kecuali nilai yang tertera dalam KHS atau raport.
Proses “SKS” adalah salah satu cara untuk mencapai goal, bukan pertumbuhan. Apabila kita mengubah mindset dari prestasi menjadi pertumbuhan, maka yang dilakukan adalah belajar secara bertahap setiap waktu. Mencoba memahami setiap konsep yang diajarkan secara sabar dan simultan. Karena pada dasarnya kurikulum telah disusun secara constructive, ibarat memasang batu bata, dari yang paling mudah menuju yang sulit.
Dalam dunia pekerjaan, khususnya Guru, orientasi pertumbuhan akan memandu kita untuk senantiasa belajar secara terus menerus. Saat pertama kali mulai menjalani profesi sebagai Guru, kita akan dihadapi pada banyak permasalahan, mulai dari permasalahan administratif, pergaulan dengan kolega, hubungan atasan –  bawahan dengan pimpinan sekolah, hingga permasalahan dengan siswa di kelas. Semua pengalaman awal tersebut akan berujung pada dua kemungkinan: pertama hanya bagian dari cerita atau kedua akan menjadi bagian dari proses belajar.
Misalnya saja, saat pertama kali masuk ke ruang kelas, seorang Guru baru akan bertemu banyak persitiwa seperti: kaku saat membuka pembelajaran, grogi saat memulai perkenalan dengan siswa, tidak menguasai teknik penyampaian materi (delivery Technic) hingga kegagalan dalam manajemen kelas. Hal tersebut sangat mungkin terjadi karena pengalaman selama pendidikan atau kuliah akan jauh berbeda dengan realitas lapangan. Bagi Guru yang berorientasi pertumbuhan akan dengan segera mencari mentor atau Guru senior. Yang bersangkutan juga akan dengan mudah mencari sumber belajar lain seperti buku, artikel atau jurnal terkait dengan permasalahan yang dihadapi.
Permasalahan juga dihadapi oleh pimpinan sekolah yang baru. Kepala Sekolah mungkin akan mengalami banyak permasalahan di awal memegang amanah. Ada Guru yang lebih senior dari sang Kepala Sekolah yang harus dihadapi, ada Guru yang tidak berkembang keterampilan dan sikap professionalnya dalam waktu yang lama, ada Guru yang memiliki permasalahan dalam interaksi sosial, laboratorium yang tidak terawat, budaya sekolah yang tidak terbentuk, hingga tingkat kedisplinan siswa yang makin menurun. Sang pemimpin baru memiliki dua opsi: belajar dan memperbaiki, atau memperbaiki tanpa didahului dengan belajar.

Pertumbuhan Guru, Pimpinan Sekolah dan Sekolah
Dengan Guru dan pimpinan sekolah yang senantiasa belajar untuk memperbaiki diri, saling mengisi kekurangan, dan saling share best practice yang dilakukan secara konsisten  akan membantu sekolah memperbaiki inner quality of the process, akhirnya mutu sekolah akan menjadi lebih baik.
Pertumbuhan kualitas sekolah tentu bukan saja semata berdasar pada peningkatan kualitas Guru dan pimpinan sekolah. Dengan mengadopsi apa yang Steve Jobs katakan dalam wawancara saat membahas product people, sekolah juga memerlukan sebuah inovasi. Saya mungkin menambahkannya dengan istilah original innovation. Sebuah inovasi yang dihasilkan dari kolaborasi proses belajar seluruh anggota tim yang kemudian menghasilkan gagasan original untuk memberikan layanan belajar terbaik sesuai dengan karakteristik dan keunikan sekolah bersangkutan.
Untuk itu maka belajar adalah salah satu syarat penting untuk tumbuh dari dalam. Belajar berkelanjutan adalah cara yang paling effective untuk terus mengalami pertumbuhan. Hasil dari pertumbuhan dengan cara ini akan sistemik dan permanen. Yakinlah, saat kita benar-benar belajar, akan terjadi peristiwa dahsyat dalam diri kita terkait knowledge acquisition, ini akan bersifat lebih permanen dibandingkan prestasi yang tampak dari luar dan dari hasil proses yang singkat.
Mari terus belajr untuk pertumbuhan kita, generasi, dan bangsa Indonesia yang kita cintai.

Keberbedaan Sekolah: sebuah tuntutan inovasi

Oleh: Rahmat S Syehani

43659127822_43574be2f4_o

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kiriman photo dari salah seorang sahabat di sebuah kota. Kiriman photonya sangat berkesan, hal ini setidaknya disebabkan dua hal. Pertama, teman saya yang tidak biasa bergelut di dunia sekolah mengirimkan photo-photo sekolah dan menyampaikan bahwa sekolah tersebut akan dijual, yang kemungkinan disebabkan kekurangan siswa. Kedua, melalui photo yang dikirim kemudian dengan segera saya cari informasi tentang sekolah tersebut, ternyata sekolah tersebut bukan sekolah biasa karena membawa nama besar tokoh, dan konon kabarnya pernah menjadi sekolah besar.

Dalam beberapa bulan terakhir ini saya mendapatkan undangan maupun diskusi terkait fenomena decline pada sekolah-sekolah swasta. Decline itu biasanya didasarkan pada penurunan jumlah siswa secara konsisten setiap tahun. Dari hasil diskusi dan observasi yang dilakukan, banyak faktor penyebab decline nya sekolah swasta diantaranya menurunnya populasi usia sekolah (biasanya sangat terasa pada tingkat PAUD) di daerah sekitar sekolah, menurunnya “daya beli” masyarakat, bertambah dan berkemkembangnya mutu sekolah negeri, peningkatan populasi sekolah swasta lain yang sejenis, serta tidak pahamnya masyarakat tentang konsep sekolah yang ditawarkan.

Terlepas dari sebab mana yang berdampak paling signifikan pada peristiwa decline, saya justru melihat ada persoalan yang paling mendasar pada sekolah-sekolah swasta kita, yaitu: keberbedaan (distinctive) sekolah swasta tersebut dari sekolah lain, khususnya sekolah negeri. Dimana, sekolah-sekolah negeri di kota-kota besar saat ini sedang meningkat kualitasnya.

Apa bedanya sekolah anda?

Saya memiliki pengalaman menarik sekitar tahun 2016 saat sedang mengadakan open house di salah satu cabang baru sekolah kami. Saat itu sekolah yang kami akan dirikan masih lahan kosong. Salah satu calon orang tua siswa mengajukan pertanyaan, yang subtansi pertanyaannya kira-kira seperti ini: pak Rahmat, kami lihat sekolah ini belum siap, gedung belum dibangun tapi sudah berani menerima siswa dengan uang masuk dan SPP yang tidak sederhana. Tolong jelaskan kepada saya, mengapa saya harus memilih sekolah ini? Sebuah pertanyaan yang cerdas dan bernas. Saya jelaskan cukup panjang dan sebagian detil. Singkat cerita kandidat orang tua siswa tersebut kemudian menjadi orang tua siswa kami.

Tentu pembaca bertanya, jawaban apa yang saya berikan pada sang penanya? Apa yang saya sampaikan kepada calon orang tua siswa tersebut cukup panjang, tetapi rangkuman sederhananya ialah tentang perbedaan sekolah ini dengan sekolah lain, termasuk sekolah kami yang sebelumnya. Dan saya pikir itulah sebagian daya tarik dan kekuatan sekolah ini. Meskipun demikian saya tetap memberikan catatan tebal pada teman-teman pengelola disana: jangan lelah utk evaluasi diri dan terus mencari formula terbaik. Karena selalu ada cara yang lebih baik untuk menjadi lebih baik.

Beranjak dari inspirasi ini, pertanyaan yang sama saya ajukan pada para pembaca: jelaskan apa yang mengharuskan saya (calon ortu siswa) harus memilih sekolah anda? Bukan sekolah negeri terdekat Dan bukan sekolah swasta lain? Apa yang membedakan sekolah ini dengan sekolah lain?

Dalam beberapa kesempatan berdiskusi dengan pimpinan sekolah swasta, saya pernah mengajukan pertanyaan yang sama. Karena biasanya saya bertanya pada pimpinan sekolah swasta Islam, dan jawaban teman-teman umumnya terkemas dalam jawaban sebagai berikut: kami punya program tahsin dan tahfidz, ekskul Al Quran, BPI, mutabaah yaumiah, dan buku penghubung dengan orang tua siswa, ditambah beberapa ekskul seperti panahan dan renang.

Lalu saya ajukan pertanyaan lanjutan: apakah sekolah X, sebuah sekolah swasta Islam yang dekat dengan sini, memiiliki program yang sama? Saling menataplah mereka. Bahkan, di beberapa kota, termasuk di Depok dan Kuningan, ada sekolah-sekolah Negeri yang memiliki program-program seperti disebutkan di atas.

Merancang Keberbedaan (distinctive)

Apa yang kemudian ingin saya ajak adalah, mari memperhatikan gambar berikut ini:

golden_egg_among_ordinary_white_eggs_42-187880011

Resource of photo: http://flapperfood.blogspot.com/2014/04/flapperfood-for-thought-speaking-of-eggs.html

Telur mana yang paling mudah teman-teman ambil?  karena biasanya orang dengan muda memilih  yang eye catching, untuk kasus di atas maka yang paling mudah diambil adalah yang (seperti) emas.

Sekarang saya mengajak teman-teman pembaca untuk membedah komponen kunci sekolah kita dan bandingkan dengan sekolah lain. Berikut ini adalah tool sederhana untuk melakukan bedah komponen. Teman-teman bisa menambahkan komponen-komponen lain dan mengisinya secara kualitatif dan kuantitatif.

Komponen Kunci Keberadaan Program Keberbedaan Kualitatif & Kuantitatif
Sekolah Anda Sekolah X Sekolah Y
Kurikulum 13 Ada Ada Ada Hampir tidak ada perbedaan, menggunakan kurikulum 2013 dari pemerintah
Buku Penunjang
Ke-Khasan Kurikulum JSIT
Pramuka
Tahsin
Tahfidz
Tingkat Pendidikan Guru
Kualitas Kinerja Guru

Teman-teman tentu bisa memasuki prestasi sekolah sebagai sebuah komponen keunggulan. Tetapi saya menyarankan jangan jadikan prestasi sebagai andalan keberbedaan. Mengapa? karena prestasi adalah hasil dari sebuah proses yang disebabkan oleh banyak variabel. Bahkan terkadang, kita tidak melakukan proses, tetapi kita mendapatkan hasil prestasinya.  Contohnya saja, salah satu siswa kami pernah meraih prestasi di golf, padahal di sekolah kami tidak ada ekskul golf apalagi kurikulum golf. Terima kasih banyak pada orang tua siswa yang mengembangkan potensi ananda.

Kembali pada tabel di atas, apabila teman-teman sudah membuat dan mengisi tabel tersebut, maka langkah selanjutnya adalah merancang inovasi sekolah. Proses perancangan inovasi dapat dilakukan dengan beragam cara, mulai dari studi banding, telaah referensi, focus group discussion, hingga mengajak pihak luar berdiskusi dengan manajemen sekolah. Dengan proses yang telaten dan berfokus pada hasil, in syaa Allah, teman-teman dapat menemukan ragam inovasi sekolah. Selanjutnya tinggal memilih mana yang terlebih dahulu akan dieksekusi dan bagaimana tahapannya.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengingatkan teman-teman dalam dua hal: pertama, apabila telah menemukan inovasi, cepat atau lambat organisasi lain akan mengikuti inovasi kita. Kalau ini terjadi, jangan risau tetapi ikhlaskanlah, semoga kita mendapatkan kebaikan dari orang lain yang meniru kebaikan kita. Untuk itu maka teruslah berinovasi dan memperbaiki diri. Kedua, setiap inovasi memerlukan implementasi, tahap ini seringkali gagal karena tidak melibatkan seluruh stakeholders sekolah. Untuk itu, rancanglah secara detil setiap tahapan implementasi inovasi dan tentukan serta sosialisasikan dengan pihak-pihak yang terlibat lalu bersabar dalam pencapaian hasilnya.